Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

KIDUNG BONANG

Karya Sunan Bonang Durma 1. Ana kidung kidunge Paneran ara namun na sakit (Bonang) tekane dosa Sabran rupane aran aban kapunah di rasul muji panakit ilan kari Waluya jati. 2. Kapayunan di luhur haras anirnaken paksi (bale larangan) kan teka min Sabran Walan lelembin kurikan tikus Celen uti-uti lolodoh Walan Saken ama suminkir. 3. Pager wetan Jabrail milik nulak sakehe Inkan mandi (baruwan) lelenek tutukan rujek wewerjit Minman kapunah di puji tasbik bruwan Aiyan PADA adoh tan wani. 4. Pager kidul Mikail anulak di lara Saketi (biriban) Senkel windu Benan memesus uban-uban lara roga PADA balik enek apulan di genahira lami. 5. Pager kulon Nijrail anulak guna trahnana weri (sanyan) teluh Kunan-Kunan desti lan japa mantra suwangi mula kabalik marin guriyan ira di biru tasik. 6. Pager lor Israpil nulak kala di kala Kalasekti (Nadan) pejuh wurun kama ...

SEJARAH KOTA TEGAL

bahasa dan kebudayaan yang tersisa dan hidup di kawasan tersebut adalah suatu bukti adanya kekayaan sejarah sebuah kota atau kawasan. Keduanya merupakan warisan peradaban umat manusia. Demikian halnya dengan Kabupaten Tegal, Wilayah yang kaya akan jejak peninggalan kesejarahan sebagai penanda bahwa Kabupaten Tegal sebagai tlatah kawasan tak dapat dilepaskan dari keterkaitan garis sejarah hingga membentuk kawasan sekarang ini. Kota Tegal merupakan penjelmaan dari sebuah desa yang bernama “Teteguall” yang pada tahun 1530 telah nampak kemajuannya dan termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang mengakui Trah (Kerajaan) Pajang. Ada beberapa sumber mengatakan sebutan teteguall diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955) yang memiliki arti tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Secara historis dijelaskan bahwa eksistensi sejarah tlatah Kota Tegal tidak lepas dari...